Breaking
Artikel

JANGAN HANYA TAAT, TAPI JUGA BERANI MEMUTUSKAN DAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

19:02 WIB 60 kali dibaca 3 menit baca
R

Ditulis oleh

Raudhatuz Zahro

JANGAN HANYA TAAT, TAPI JUGA BERANI MEMUTUSKAN DAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI
JANGAN HANYA TAAT, TAPI JUGA BERANI MEMUTUSKAN DAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

Ketaatan kepada orang tua dan guru adalah pondasi. Tapi hidup tidak berhenti di ketaatan.

Dunia terus bergerak dan berubah. Ia tidak selalu berjalan sesuai teks. Jika kita hanya terbiasa menunggu perintah dan takut mengambil risiko, kita akan mudah hanyut oleh arus zaman yang semakin cepat dan tidak menentu.

Hidup menuntut lebih dari sekadar sopan dan patuh. Ia juga menuntut tanggung jawab dan keberanian.

Para Sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW pun berijtihad untuk menjawab tantangan dakwah yang baru. Para Ulama juga merumuskan cabang-cabang ilmu agar umat tetap berada di jalan yang lurus. Mereka tidak hanya taat, tapi juga adaptif dan inisiatif.

Belajar hari ini bukan hanya untuk menyelesaikan masalah hari ini, tapi untuk melatih kepekaan menghadapi masalah di masa depan. Masalah seperti apa yang akan datang, kita tidak tahu. Tugas kita adalah melatih diri agar tidak hanya taat, tapi juga peka, adaptif, berinisiatif, berani mengambil keputusan, dan siap menanggung konsekuensinya.

Selain keberanian mengambil keputusan, bekal terpenting berikutnya adalah kemampuan komunikasi yang baik.

Menyampaikan isi pikiran dan perasaan dengan kata dan diksi yang tepat adalah keahlian yang tidak dimiliki semua orang. Dan ini bukan bakat lahir, melainkan keterampilan yang harus dilatih terus-menerus.

Semua dimulai dari hal paling dasar: kosakata. Semakin kaya kosakata kita, semakin kaya pula makna yang bisa kita sampaikan.

Bagaimana cara membangunnya?

1. Perbanyak Input yang Bermutu

Di usia muda, perbanyak membaca buku. Novel pun tidak masalah, selama bermanfaat. Saat membaca, otak tidak hanya memahami cerita, tapi juga menyerap diksi dan kosakata.

Kurangi dumb scrolling dan konsumsi tontonan berjam-jam yang membuat otak menjadi pasif.

2. Latih Output Secara Sadar

Cara belajar terbaik bukan hanya memasukkan informasi, tapi juga mengeluarkannya. Latih diri untuk menulis, berbicara - bahkan latihan di depan cermin - dan aktif berdiskusi bertukar pendapat.

Al-Quran telah mengisyaratkan pentingnya hal ini di Surat Ar-Rahman ayat 4:

"Allamahul Bayan" - Dialah yang mengajarkan manusia pandai berbicara.

Bahkan salah satu mukjizat Rasulullah SAW setelah Al-Quran adalah Jawami'ul Kalim, kemampuan menyampaikan pesan yang ringkas, padat, dan mudah dipahami. Dan dalam Surat Ar-Rum ayat 22, Allah menyebutkan keragaman bahasa sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya.

Tahukah Anda mengapa lukisan manusia purba di dinding gua sangat penting bagi para antropolog? Karena disitulah awal mula komunikasi. Ketika manusia mulai mampu mengungkapkan gagasan abstrak yang ada di dalam pikirannya melalui gambar.

Pertanyaannya untuk kita hari ini:

Jika manusia purba saja berani mengabadikan pikirannya agar dipahami ribuan tahun kemudian, seberapa baik kita sudah menyampaikan isi hati dan pikiran kita?

Jangan sampai kita kalah berani hanya karena rasa sungkan dan takut salah.

—Nasehat Ustadzuna Hafidzohullahu Ta'ala

R

Kontributor

Raudhatuz Zahro

Bagikan berita ini: