Ada satu kesalahpahaman yang semakin sering diterima sebagai kewajaran: bahwa diam adalah sikap paling aman. Diam dianggap netral, bijaksana, bahkan dewasa. Padahal, dalam banyak keadaan, diam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk keberpihakan.
Setiap ketimpangan selalu bertahan karena dua hal: mereka yang menciptakannya dan mereka yang membiarkannya.
الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق
Orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu, sedangkan orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara
Ungkapan ini memang bukan hadis Nabi, tetapi pesannya jelas: ketika seseorang mampu menyampaikan kebenaran, tetapi memilih diam karena takut, nyaman, atau merasa itu bukan urusannya, maka diamnya bukan lagi sikap netral.
Ada pula kaidah yang tidak kalah kuat:
الرضا بالظلم ظلم
"Merelakan kezaliman adalah bagian dari kezaliman."
Mengapa? Karena kezaliman tidak selalu menang karena pelakunya hebat. Sering kali ia menang karena terlalu sedikit orang yang berani berkata, "Ini salah."
Lihatlah di sekitar kita. Ketimpangan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata, hukum yang sering dipersepsikan berbeda antara yang kuat dan yang lemah, atau kebijakan yang terasa jauh dari suara rakyat. Apakah semua itu akan berubah jika semua orang memilih diam?
Tentu tidak.
Perubahan selalu dimulai dari suara. Dari seseorang yang berani bertanya, "Mengapa ini terjadi?" Dari seseorang yang berani berkata, "Ini perlu diperbaiki."
Hadis Nabi tentang amar makruf nahi mungkar tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga bagaimana melakukannya sesuai kemampuan.
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)
Pada masa Rasulullah, menyampaikan kebenaran dilakukan dengan lisan. Hari ini, lisan tidak lagi hanya berarti suara yang keluar dari mulut. Lisan juga hadir dalam bentuk tulisan. Artikel, opini, buku, jurnal, maupun unggahan yang mengajak kepada kebaikan adalah bagian dari cara menyampaikan kebenaran. Menulis menjadi salah satu ikhtiar untuk menunaikan amar makruf nahi mungkar, selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan kejujuran.
Lalu, mengapa harus berhenti menulis hanya karena cibiran?
Mengapa harus membungkam pikiran hanya karena dicap "sok alim", "sok kritis", atau "sok tahu"?
Jika setiap penulis berhenti karena takut dicibir, jika setiap intelektual memilih diam karena khawatir disalahpahami, dan jika setiap orang yang peduli memilih bungkam demi kenyamanan, siapa yang akan mengingatkan masyarakat ketika kebenaran mulai dikaburkan?
Tidak semua tulisan akan disukai. Bahkan para nabi pun ditolak oleh kaumnya. Maka, ukuran sebuah tulisan bukanlah banyaknya tepuk tangan, melainkan apakah ia lahir dari niat yang benar, berpijak pada ilmu, dan membawa manfaat.
Karena itu, jangan biarkan cibiran mengalahkan tanggung jawab. Teruslah menulis, bukan untuk terlihat paling benar, tetapi agar kebenaran tetap memiliki suara. Teruslah menulis, bukan untuk mencari pujian, tetapi agar kemungkaran tidak dibiarkan tanpa koreksi.
Sebab bisa jadi, satu tulisan yang jujur mampu membangunkan banyak hati yang lama tertidur. Dan bisa jadi, satu tulisan yang tidak pernah kita anggap penting justru menjadi amal jariyah yang terus mengalir setelah kita tiada.