Breaking
Artikel

Luka yang kadung menganga: Ketika ego dan moral berdiri berseberangan

17:25 WIB 58 kali dibaca 6 menit baca
T

Ditulis oleh

Tola' Iraksa

Luka yang kadung menganga: Ketika ego dan moral berdiri berseberangan
Luka yang kadung menganga: Ketika ego dan moral berdiri berseberangan

Beberapa waktu yang silam, saya ditanya oleh seorang laki-laki paruh baya “Kenapa sampai seperti ini ya cong?” pertanyaan itu terucap seusai ia menonton sebuah cuplikan video kericuhan pasca sidang pleno Munas dan Konbes NU di pondok pesantren Al Falah Kediri. Saya terdiam, lidah terasa kelu tak mampu memberikan jawaban, tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang teramat wajar ditanyakan oleh seseorang yang hanya tau kalau NU itu Kompolan. Dan karena pertanyaan sederhana itu pula beberapa hari setelahnya pikiran saya masygul tak terkira sampai sekarang, hingga puncaknya tulisan ini lahir demi sedikit mengurangi kegundahan saya yang notabene hidup dan belajar di lingkungan NU dan pesantren NU.

Maka sebelum melangkah lebih jauh lagi, saya ingin klarifikasi bahwa tulisan ini tidak akan berisi gagasan, ide atau hal-hal brilian lainnya. Ini sekedar sebuah pertanyaan-pertanyaan dan keresahan-keresahan yang mungkin saja nanti tidak akan ada ujung pangkalnya.

ADA APA? DAN KENAPA?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap muktamar NU dilaksanakan selalu ada warna di dalamnya entah menjelang persiapan atau saat hari H. Ironisnya warna yang ditorehkan kerap kali kelam atau memang lebih seringnya gelap, lantas efeknya apa? Boom! Tentu saja image NU di muka publik semakin tak terbentuk. Sudahlah banyak yang memusuhi dan berharap kehancurannya, orang-orang yang ada didalamnya juga masih suka saling makan satu sama lain. Yo wes los! Polanya pun selalu sama, ibarat gempa vulkanik getarannya sudah terasa tinggal nunggu gunungnya meletus. Lalu siapa yang paling diuntungkan dari peristiwa ini? Apakah pihak yang menang? Jelas tidak! Menang disini jadi arang kalah pun jadi abu.

Orang-orang yang memang sedari awal memendam kesumat terhadap NU akan ikut andil dan meloncat kegirangan menyaksikan orang-orang yang bahkan mungkin dulunya satu pondok saling umpat satu sama lain, saling hina atau naudzubillah saling fitnah di media sosial! Aduhai bahkan saya pun tidak bisa membayangkan bagaimana seringai mereka saat membuka IG, Tiktok, X atau Facebook dan menemukan berbagai ragam cuitan, postingan, atau reel yang isinya mengkebiri saudara seorganisasinya. Pepatah lama mengatakan “satu kali tepuk dua nyamuk tumbang seketika”, nah ini belum ditepuk pun nyamuknya sudah tumbang.

Lantas siapa yang paling terdampak dari tragedi ini? Sudah pasti orang-orang yang ada di tingkat ranting, merekalah yang akan dilema pertama kali, merekalah yang akan paling kebingungan dalam menentukan sikap, mereka jugalah yang akan jadi korban dan puncaknya, mereka akan mulai kehilangan rasa takzim kepada para kyai, alim ulama atau pimpinan organisasi lantaran salah dalam mengambil kesimpulan akibat meraba gajah di pinggir jalan.

Tapi itu kan perbuatan oknum, itukan belum cukup merepresentasikan NU? Memang betul, itu perbuatan oknum yang tidak cukup untuk merepresentasikan NU, tapi mau sampai kapan kita terus berpikit seperti itu? Satu kali dua kali bolehlah kita berdalih oknum tapi kalau sampai berkali-kali dan kejadiannya selalu dalam momentum yang sama? Maka jangan salah kalau-kalau tak sedikitt orang yang berkesimpulan bahwa kita melakukan pembiaran pada penyakit dalam tubuh organisasi kita sendiri.

Kenapa kita harus sampai sejauh itu? Sebab masyarakat awam tidak pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya disuguhi potongan video berdurasi beberapa detik, tangkapan layar percakapan, potongan pidato, lalu diminta menjadi hakim. Padahal sedari dulu para ulama selalu mengajarkan agar tabayyun didahulukan daripada tergesa-gesa menjatuhkan vonis. Tapi di era media sosial, tabayyun kalah cepat dengan tombol "bagikan". Akhirnya yang viral bukan lagi ilmu, melainkan prasangka.

Saya jadi teringat sebuah nasihat yang sering saya dengar waktu kecil, "jhe’ pang ghempang a nilai/ arasanan Kyai." Sebab kehormatan ulama itu tidak dibangun dalam semalam. Ia ditegakkan oleh puluhan tahun pengabdian, oleh ribuan santri yang pernah dididik, oleh jutaan doa yang pernah dipanjatkan. Sementara kita? Kadang hanya bermodal kuota internet dan keberanian berkomentar.

Lalu, apakah ini berarti semua yang terjadi harus dianggap biasa? Tentu tidak. Justru karena kita mencintai NU, kita berhak merasa sedih. Justru karena kita tumbuh di lingkungan NU, kita pantas merasa gelisah. Sebab cinta yang sehat bukanlah cinta yang menutup mata terhadap kekurangan, melainkan cinta yang tetap memilih menjaga rumahnya meski atapnya sedang bocor. Justru karena kita mencintai NU maka kitalah yang harus paling berisik saat ada sesuatu yang abnormal dalam tubuh NU itu sendiri. Ingat! Kanker yang ganas berasal dari satu sel yang rusak.

Sebab esensinya yang kita khawatirkan bukan sekadar kericuhan itu sendiri. Kericuhan akan selesai, sidang akan ditutup, keputusan akan diketok, peserta akan pulang ke daerah masing-masing. Namun jejak digitalnya akan tetap tinggal. Video-video itu akan terus beredar, diputar berulang-ulang, dijadikan amunisi oleh mereka yang sejak awal memang tidak pernah menyukai NU. Lebih ironis lagi apabila yang menyebarkan justru warga NU sendiri.

Bukankah sejak dulu para masyayikh mengajarkan adab sebelum ilmu? Bukankah kita diajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan adalah kewajiban? Mengapa ketika berbeda pilihan, berbeda pandangan, atau berbeda keberpihakan, yang pertama kali hilang justru adabnya? Mengapa lisan menjadi begitu ringan mengucapkan kalimat yang bahkan mungkin tidak akan pernah berani diucapkan ketika berhadapan langsung?

Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk membenarkan satu pihak atau menyalahkan pihak yang lain. Saya juga tidak sedang menjadi juru bicara siapa-siapa. Saya hanya sedang bertanya, jangan-jangan kita terlalu sibuk memenangkan kelompok, sampai lupa menjaga marwah jam'iyah. Jangan-jangan kita terlalu bersemangat membela tokoh, sampai lupa bahwa organisasi ini jauh lebih besar daripada siapa pun yang hari ini sedang berada di dalamnya.

NU telah melewati masa-masa yang jauh lebih berat daripada sekadar perdebatan di forum atau keributan yang viral di media sosial. NU pernah menghadapi penjajah, melewati masa revolusi, bertahan di tengah dinamika politik yang keras, bahkan berkali-kali diterpa fitnah. Semua itu bisa dilewati karena satu hal: para pendahulu lebih memilih menahan ego daripada memperturutkan gengsi.

Pertanyaannya sekarang, apakah warisan itu masih kita jaga?

Ataukah kita mulai merasa bahwa membela NU cukup dengan membuat status, mengunggah video, dan menyerang saudara sendiri yang kebetulan berbeda barisan?

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, lelaki paruh baya yang bertanya kepada saya beberapa waktu lalu mungkin bukan satu-satunya orang yang kebingungan. Masih banyak masyarakat di luar sana yang sedang bertanya hal yang sama.

"Kenapa sampai seperti ini?"

Dan yang lebih membuat saya takut, jangan-jangan suatu hari nanti pertanyaan itu bukan lagi keluar dari orang luar NU.

Tetapi justru keluar dari anak-anak muda NU sendiri yang mulai kehilangan keyakinan terhadap rumah yang selama ini mereka cintai.

Kalau itu benar-benar terjadi, maka sesungguhnya yang kita hilangi bukan sekadar wibawa sebuah organisasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu kepercayaan.

Dan kepercayaan, sebagaimana kaca yang retak, mungkin masih bisa direkatkan. Tetapi bekas retaknya akan selalu terlihat.

T

Kontributor

Tola' Iraksa

Bagikan berita ini: